Pola Kepemimpinan Mahasiswa

Pola Kepemimpinan dalam Sejarah Gerakan Mahasiswa

Wacana tentang gerakan mahasiswa selalu menarik diberbagai negara. Geliatnya

linear dengan timbulnya rasa ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan penindasan terhadap

rakyat oleh kekuasaan. Upaya depolitisasi yang dilakukan oleh penguasa, serta hegemoni

kelompok kepentingan dalam konstelasi politik nasional, senantiasa menjadi agenda

penting dalam setiap gerakan mahasiswa di berbagai negara di belahan dunia. Sepak

terjang kelompok muda intelektual ini telah menghasilkan berbagai resume seminar

mengenai hal itu, demikian pula tak terhitung banyaknya buku dan tulisan yang telah

dipublikasikan, namun sebagaimana diungkapkan pada kalimat pertama tulisan ini,

fenomena ini selalu menarik untuk diperbincangkan. Terutama sisi dinamika dan

pergeseran pola gerakan, yang di dalamnya termuat pola kepemimpinan, karena secara

teoritik pergeseran itu akan berimbas signifikan terhadap pola kepemimpinan dan

dinamika masyarakat dalam skala yang lebih luas.

Di sisi lain, gerakan mahasiswa juga merupakan anak kandung dari perubahan

yang terjadi pada budaya masyarakat. Sehingga ide, semangat, pola, dan implikasi

gerakan di setiap masa, tidak lepas dari kecenderungan budaya yang berkembang di

masyarakat. Dalam konteks itulah, boleh jadi munculnya distorsi dalam perilaku “tokohtokoh”

gerakan mahasiswa belakangan ini, merupakan miniatur dari dominannya budaya

“pragmatik dan fragmentaris” warisan orde baru dalam budaya masyarakat kita.

Sebelum distorsi ini meluas, dan gerakan mahasiswa terperoksok dalam “kecelakanaan

sejarah” yang kian parah, ada baiknya saat ini, semua elemen yang merasa bertanggung

jawab kepada tegaknya semangat “kepeloporan dan kebenaran” pada kelompok muda ini

ikut memikirkan, dan memberi kontribusi untuk menemukan kembali format gerakan dan

pola kepemimpinan mahasiswa. Sehingga esensi dan eksistensi perjuangannya tetap

terjaga dari maksud pihak kepentingan yang akan menunggangi idealisme dan kejujuran

gerakan mahasiswa. Tulisan ini dibuat, adalah refeleksi dari kegundahan setelah melihat

fenomena ini, kian hari kian kentara. Dan dengan keyakinan penuh, bahwa masih banyak

aktivis-aktivis mahasiswa yang masih mengedepankan hati nurani, kejujuran, dan

idealisme; maka tulisan ini dibuat.

Dilihat dari perspektif sejarah, gerakan mahasiswa Indonesia dapat dikelompokan,

ke dalam tiga (3) era, yakni: Era student government, Era Depolitisasi kampus, dan Era

Reformasi. Pada ketiga era ini meniscayakan munculnya profil pemimpin di kalangan

mahasiswa. Pertama, era student government, saat itu gerakan mahasiswa bersifat

independen. Walaupun sekat-sekat idielogis sulit ditepis, namun kebebasan

mengekpresikan “kebenaran” tersedia. Asumsinya, moralitas adalah ukuran yang bersipat

universal. Kemudian ciri lain adalah kuatnya idealisme dan tumbuhnya semangat

demokratisasi. Walaupun ukuran-ukuran kedua hal tersebut masih dalam skala

masyarakat paternalistik, namun dapat memberi ruang yang cukup untuk tumbuhnya

figur pemimpin dari bawah (bottom up). Dewan Mahasiswa (DM) adalah reperesentasi

dari pemerintahan mahasiswa (student government) memiliki posisi tawar yang tinggi,

dan memiliki jaringan ke dalam dan keluar (ekstra dan intra kampus) sama kuatnya.

Kedua, era Depolitisasi kampus, di era ini mahasiswa dikembalikan pada habitat

aslinya sebagai penggali ilmu pengetahuan. Kampus adalah tempat bersemainya kaderkader

intelektual yang memiliki ketajaman berpikir dan memiliki kompetensi keilmuan

yang tinggi. Organisasi mahasiswa adalah bagian integral dari usaha mewujudkan visi

perguruan tinggi, yakni meningkatnya nalar mahasiswa. Guna memberi dukungan ke arah

itu, maka pengembangan minat dan bakat mahasiswa, serta kesejahteraan mahasiswa

merupakan bagian tak terpisahkan dalam kegiatan pembinaan kemahasiswaan. Untuk itu

maka urusan kemahasiswaan bukan saja urusan mahasiswa semata, namun juga menjadi

kewajiban birokrasi kampus. Aktivitas mahasiswa di luar keilmuan tetap diperbolehkan

selama itu menjadi tanggung jawab mahasiswa secara individual. Mengekpresikan

kegiatan serupa itu bisa melalui kegiatan organisasi mahasiswa ekstra kampus (HMI,

PMKRI, GMNI, dan sejenisnya).

Alhasil gerakan masiswa intra kampus, selama periode ini, menjadi dependen,

eklusif, dan cenderung pragmatik (orientasi pada keilmuan dan hal-hal yang lebih jelas

lagi). Mahasiswa, dan juga saat itu umumnya rakyat Indonesia, digiring menjadi apolitis.

Politik diposisikan sebagai stigma yang harus dijauhi. Dekade ini diwarnai dengan

pemimpin mahasiswa bergaya “anak manis” khususnya pada organisasi formal. Mereka

adalah mahasiswa dengan IPK yang relatif baik, menguasai substansi keilmuannya,

namun tidak cukup kuat memiliki interelasi dengan akar rumput, adakalanya gagap

menghadapi dinamika sosial, serta kurang mau mengambil resiko.

Ketiga, era reformasi. Saya juga sering menyebut era ini sebagai era transisional,

karena menurut penulis, saat ini belum menunjukan ciri bahwa era ini bersifat permanen.

Berbagai ketentuan, seiring dengan semangat reformasi dan demokratisasi, telah

dilakukan regulasi. Secara makro perubahan ini tidak lepas dari buah gerakan mahasiswa

tahun 1998. Gerakan mahasiswa 1998 ini, menurut hemat penulis jauh lebih hebat dari

gerakan serupa di tahun 1966,1974, maupun 1978. Sebagaimana terungkap di atas,

perjuangan tahun 1974, dan juga tahun 1978 tidak berhasil menggulingkan pemerintah

yang berkuasa saat itu, yakni Soeharto. Sedang gerakan mahasiswa tahun 1998 mampu

menggeser rezim yang sudah berkuasa lebih dari 30 tahun ini. Padahal isyu yang

dibawanya tidaklah jauh berbeda dengan dua peristiwa sebelumnya. Kemudian gerakan

mahasiswa tahun 1998 inipun jauh lebih hebat ketimbang gerakan serupa di tahun 1966.

Karena gerakan di tahun 1966, jelas-jelas didukung militer setidak-tidaknya militer bukan

variabel yang menjadi penghambat. Namun gerakan mahasiswa tahun 1998, justru harus

berhadap-hadapan dengan kekuatan militer, khususnya AD, dan sedikit memperoleh

angin dari AL.

Categories: info | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: